Puisi
SADARKU
Ini tak kusadari
Sampai saat ini
Keadaan yang kuanggap tak normal ini
Menikam wajahku begitu muram
Beberapa kisah mengatakan aku terbuai akan mimpiku
Tak kuhiraukan meski itu terus menjeratku
Kurasa tidak ada yang sempurna digenggamanku
Aku rapuh akan satu hal dalam diriku
Aku tak yakin dengan langkahku
Semutpun tertawa beringas melihatku
Bersekutu dengan yang lain menatapku
Kusadari
Aku harus bangkit
Dengan satu rasa
Genggamlah tanganmu sendiri
Tataplah jalanmu dengan lurus
Akupun harus pergi
Menginjak kakiku sendiri
Dengan tersenyum lepas
Memar membalut
Kapital itu keji
Sujud yang teraniaya
Bullshit
Semua rendah di mataku
Ini bukan kebiadaban
Ini terpuji
AKU TAKUT(ANJINGKU MATI DISISIKU)
Resah jadikan ketakutan ini
Masihkah ada kekuatan untuk memacu
Terus pacu…..
Berlarilah kedasar danau
Temukan jejak semangat yang telah padam
Maukah rasakan detak-detak itu
Disitu anjing-anjing lakukan dusta
Tak henti-hentinya mereka tersenyum padaku
Apa yang terjadi padaku
Tak satupun peduli padaku
Didekat itu kumainkan dawai dengan berlari ketakutan
Aku mulai sakit tak beraturan
Batu-batu itu……
Meruntuhkan segala impianku
Aku terus mencari kedasar danau itu
Telah kusaksikan
Betapa murahannya kehidupan sekarang
Begini makna sebuah harapan ?
Setiap benak yang terlintas
Telah dipancung oleh kedigdayaan
Hei…
Para penggila kedigdayaan !!
Kau pikir sudah menjadi raja didunia ini..
Ribuan kegigihan yang bertunas
Kau pangkas tanpa arah
Dari ujung rambut sampai jiwaku yang mati
SAMAR
Ada yang merebah untuk kejiwaan yang terganggu
Tersayat mulai melayang
Srikandiku bertampang sembunyi mendekat
Putik-putik bunga padang sahara terhanyut menghias diri
Tak kusangka kukecup kembali nadiku sendiri
Hatiku sekarang ampuh untuk menapaki sekuntum pelangi kembali
Berada di peraduankah dengan menanyakan kembali
Tak percaya akan mematahkan juga
Menatap kepala suci yang terberangus keresahan bersama kecemasaan diri
Kuharap kelenjar ini semakin menjalar ke semua bagianku
________________________
Aku ingin bebas tapi terjebak
Orang ingin bebas tapi terjebak
Semua orang berteriak bebas telah terjebak
Dengan lantang ingin bebas tapi tak bisa karena terjebak
Keindahan dari diri apakah ini yang selalu terjebak
Memang kita selalu terjaga untuk menghindar tapi tetap saja terjebak
_____________________________________
Berapapun yang tersisa mengalir dalam hidup
Kutergerak tapi tak berontak
Aku bungkam untuk ketidakadilan
kukatakan “diam”Sekali lagi “diam”
Tak adakah lagi yang harus bicara untuk saat ini
Apa?
Kau bilang aku bisu !!!
Tidak, aku baru saja terperangkap jaring yang bejat itu
Anjing !!Aku terus berkobar dalam bungkamankuTidakkah ini penting !
Apapun itu pastilah berberat sebelah untuk saat ini
Rindang mengambang bersama lapuknya ketajaman fikiran
Hebat” memang manusia sungguh hebat
Selalu tak bersandar pada jangkauannya
Misteri apa yang menyelimuti semua ini
Seakan tak pernah berhadapan dengan kehancuran semesta alam
Kurasa awan mendung tak lagi menghitam
Kubertanya kembali adilkah untuk setiap nafas yang tersenggal
Bedebah !!
Tak ada lagi yang kuharapkan jadi diriku
Aku menyiksa setiap noda-noda lemah tak berdosa
Berjanji hanya bungkaman belakaOoh” satu persatu jiwa itu menghilang
Menghampar dilautan kebejatan para penggede-penggede tak berhati
Haru..haru sekali akan kepicikan tawa mereka
Ha..ha..ha..ha…
Tak ku pelakkan perhatian dalam danau itu
Ku berharap fana yang telah hancur ituSelalu jadi penopang ragaku
Yang telah menyamarkan dustaku
aku terbang tinggi saat terdekat olehmu
serasa sangat kelam saat tertampar begitu dalam
semuapun merintih menyaksikan keadaan ini
tak terkecuali nafsu membara yang membakar melati putih-usangpun ikut merintih
misteri apakah ini…………
Jantungku, jantungku, nafasku, ahhh, tersenggal
Otakku kian mengurai
Berurai menjadi rantai kosakata yang tertera
Lemas pilek dingin mulutku bergetar
Saksi mati cahaya yang mekar redup
Inikah semakin mati aku menjadi redup
Aku ingin bernafas dengan lega
Hirup aku bersama jarum-jarum melewati otak menancap menuju paru-paru
Bergetar seluruh tubuh melumpuh
Otakku lumpuh
Tanganku lumpuh
Mataku lumpuh
Kakiku lumpuh
Kelaminku lumpuh
Lumpuh, lumpuh, lumpuh….
Jadi aku bangkit
Ini aku bangkit
Terpental untuk tegak
Dengan kacang ini aku tak mau menjamur
Ada estafet panel gembok antara kodok dengan jerawat
Satu untuk pertama kali air mata menetes memaksa kedalam
Orang tua menginjak terlalu lekak
menghancurkan masa depan
Mandi bulan,2.00_10;feb;07
<tmpatPecanda>
(Aristya Kusuma Verdana)
MENGEJAR AIR
Orang sudah mencakar-cakar langit
Orang sudah memperkosa bumi
Waktu sudah dipenuhi angka-angka
Semua sudah bersudut tajam
Semua beubah menjadi api !
Api, Api
Pada beningnya nurani
Mata air kejadian bisa diurai
Tapi jarak telah kelamDimanakah air ?
Apakah ada pada kamu ?
(Imam Bucah_sanggar paramesthi “mbalekke banyu” : performance art)
