Teater Kaplink

April 14, 2007

Semar

Filed under: Artikel

Dr. Serruerir (1896)

Semar berasal dari para Dewa. Ia merupakan teman dan bapa dari para Pandawa, dan memiliki kesaktian dewa serta kekuatan gaib. Ia juga sangat cerdik dan tahu pula jalan ke luar setiap kesulitan dan ia memberi peringatan sebelum mara-bahaya datang. Semar selalu dapat menyesuaikan diri dalam semua keadaan dan dapat mengikuti kehendak dari tuannya (Pandawa). Maka dengan demikian tidaklah aneh kalau Semar juaga membantu Arjuna dalam ulah asmara. Unsur yang aneh dan lucu dari pribadinya, pertama-tama tampak pada wajahnya, bahkan ia juga tidak menyukai perlakuan yang tidak sopan dari musuhnya. Ia mempunyai kebiasaan menangis pada setiap peristiwa menyedihkan, tetapi juga tertawa pda setiap peristiwa yang menggembirakan.

 

Dr. GAJ. Hazeu (1897)

Jika diperhatikan, bahwa semar dan anak-anaknya tampil dalam setiap drama, tampak bahwa nama-nama mereka sangat kuna. Lebih-lebih tidak dapat diterangkan artinya, bahwa boneka-boneka wayang yang menggambarkan Semar cs, mempunyai tipe yang berlinan sekali daripada menggambarkan peranan India. Terutama Semar tampil dalam posisi yang sekarang lebih daripada sebagai pelawak atau pelayan biasa, Semar senantiasa melindungi tuannya termasuk keturunan Pandawa yang disegani dan dihormati. Ia juga senantiasa memberi nasehat-nasehat yang bijaksana kepada leluhur dan anak cucu mereka. Semar lebih mengetahui rencana Dewa, manusia dan tuan-tuannya selalu meminta nasehatnya jika mereka menemui kesulitan. Bahkan ia juga sanggup terbang ke Khayangan.

 



Dr. Juynboll

Nama Semar  berasal dari kata “SAR” yang berarti sinar. Jadi Semar berarti sesuatu yang memancarkan sinar atau sumber dari segala sumber cahaya, atau Dewanya cahaya. Lebih lanjut beliau membandingkan tokoh Semar dengan tokoh cerita pahlawan dari Turki, dimana dalam permainan Karagos, diceritakan bahwa Dewa kesuburan berasal dari Dewa musim semi. Lebih jauh lagi beliau membandingkan kata “Semar” dengan “Sumar”, yang berarti penyebaran keturunan atau perkembangan sebagai suatu kata sifat yang berarti tambah banyak. Bahwasanya semua menjadi kesayangan orang banyak.

 

Pedalangan

A.

Semar punika saking basa “samar”, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar. Yen den wastani jalu wandanira kadi wanita. Yen sinebat estri, dadapuranira teka pria. Pramila katah ingkang klentu mastani. Yen ta wonten ingkang hatanya menggahing sasipatanira hirung sunti marakaeni, lan sak panunggalanipun sedaya sarwa mrakateni.

Artinya:

Semar beasal dari kata “samar”, memang sesungguhnya rupa Ki Lurah Semar juga membingungkan. Jika dilihat baik-baik, wajah laki-lakinya mirip perempuan. Jika disebut perempuan wajahnya mirip laki-laki. Oleh karenanya banyak orang yang salah menyebutnya, orang akan melihat: hidungnya runcing seperti hidung perempuan yang mempesonakan, matanya yang basah juga memposanakan dan lain-lainya serba menarik perhatian.

B.

Semar punika saking bahasa “semat”, semat punika wujudipun bunder, sok jan maha kadunungan semat, tertampu kesembadan sidianira. Makaten ugi ingkang kanggenan Kyai Lurah Semar sakestu den menangaken. Menggah sajatinira semar punika dede titah ing ngabarata nanging Dewa ing Suralaya: Sang Hyang Ismaya. “Kyai Lurah Semar inggih apaparab Kyai Lurah Badranaya, inggih Ki Ajeng Deduk.”

Artinya:

Semar berasal dari kata “semat”, semat berarti bulat bentuknya. Oleh karenanya Semar berbentuk bulat. Dan siapa saja yang memiliki semat niscaya akan terkabul semua cita-citanya. Dan begitu juaga, siapa saja yang dibantu oleh semar akan selalu mendapat kemenangan dan kesuksesan. Sebenarnya Semar bukan makhluk ciptaan Dewa, ia adalah Dewa sendiri dari Suralaya, ialah Sang Hyang Ismaya. Kyai Lurah Semar mempunyai gelar atau nama panggilan: Kyai Lurah Badranaya atau Ki Ageng Deduk.

 

Serat Manikmaya

Sang Manik menjadi Sang Hyang Betara Guru, sedang Sang Hyang Maya Menjadi Semar.

 

Serat Kanda

Nabi Adam berputra Nabi Sis, Nabi Sis Berputera Anwas juga bernama Sang Nurcahya, Sang Nurcahya berputera Sang Hyang Nurasa, Kemudian Sang Hyang Nurasa berputera Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Tunggal atau Semar. Kemudian Sang Hyang Wenag berputera Sang Hyang Sambu atau sering disebut Sang Hyang Batara Guru. Jadi Sang Hyang Tunggal atau Semar itu adalah paman Batara Guru.

 

Di dalam lambang aliran kebatinan Sapta Dharma

Gambar Semar juga menggambarkan budi luhur. Gambar itu selanjutnya menunjukkan, bahwa tangan kirinya menggenggam sesuatu yang berarti bahwa ia memiliki rasa yang mulia (roh). Semar juga memiliki pusaka, yang berarti bahwa ia memiliki sabda yang kuasa, yang berada pada kata-kata yang diucapkan dengan suci. Selanjutnya Semar mengenakan kampuh (kain), yang memiliki lima lipatan (wiron), yang berarti bahwa ia menjalankan Panca Sila Allah.

 

Dr. Seno Sastraamijaya

Mudah dimengertilah kiranya, bahwa hubungan antara Semar dan para Pandawa itu sedikit banyak Pandawa memperlambangkan pula pengertian atau gagasan “Kawula” (umat manusia) dan Gusti (Tuhan Yang Maha Esa).

 

 



A.W. Sarjana dalam bukunya “Ismaya Tiwikrama” (1965)

Ismaya adalah Semar dan Semar adalah Rakyat. Tiwikrama artinya marah. Jadi dengan lain perkataan Ismaya Tiwikrama dapat diartikan dengan kemarahan Rakyat.

 

R.A.H Bangun Subrata dalam bukunya “Serat Tumuruning Wahyu Maya” (1954)

Semar atau Badranaya adalah Kurah Dadapan Titisan Batara Ismaya.

Hal ini dinyatakan pada pupuh 3 sampai dengan pupuh 7 lagu kedua yang secara bebas dapat ditampilkan sebagai berikut :

Seorang petani bernama Badranaya bekas Lurah Desa Dadapan wilayah negara besar Wirata. Badranaya tak mempunyai seorang anakpun dan hidup sendiri tanpa teman. Pekerjaannya sehari-hari hanya bertani sambil berdendang.

Walaupun Badranaya berbadan dan berparas jelek, namun ia sangat dipatuhi, disegani dan dihormati secara tulus ikhlas, oleh segenap rakyat desa Dadapan. Bahkan ia terkenal sebagai dukun utama, karena ia mampu mengobati orang sakit yang bertahun-tahun tak kunjung sembuh, oleh Badranaya dapat disembuhkan seketika. Karena itu tak anehlah Desa Dadapan ramai dikunjungi oleh orang-orang dari daerah lain berduyun datang ke rumah Badranaya untuk mohon pertolongannya.

Karena terlalu banyak tamu dan sibuk melayaninya, hampir-hampir ia tak sempat untuk mengaso dan melakukan ibadah. Oleh karena itu ia memutuskan akan meninggalkan profesinya dan ingin mengembara ke tengah hutan belantara untuk bertapa mencari anugerah Illahi. Pendek kata ia telah meninggalkan hidup duniawi. Pengembaraanya telah sampai di lereng gunung Nilandusa. Gunung tersebut sangat terkenal sebagai kerajaan Jim Gandarwa Bernama Bausasra.

Raja Gandarwa Bausasra Mempunyai seorang permai suri bernama Ni Lutrungwilwa dan dua anak yang berwajah jelek Bernama Kucir Dan Kuncung.

Suatu ketika Raja Bausasra jatuh cinta kepada putri gandarwa bernama Retna Agastini. Retna Agastini pun tak menolak dan bersedia menjadi permaisurinya.asal Ni Lutrung bersama kedua anak-anaknya (Kucir dan Kuncung) diusir dari kerajaan. Karena luapan cintanya yang menggebu-gebu, maka Bausasra tak pikir panjang, segera diturutinya apa yang menjadi kehendak dan permintaan Retna Agastini, dan diusirlah Ni Lutrung bersama kedua anaknya dari kerajaan. Dengan penuh perasaan kecewa, sedih dengan rasa agak berat Ni Lutrung bersama kedua anaknya yang masih kecil belum dewasa meninggalakan kerajaan menuju ke hutan belantara. Agaknya kekecewaan dan kesedihan Ni Lutrung tak berjalan lama, karena ditengah perjalanan NI Lutrung bertemu dengan Sang Kalarubi dan pada pandangan pertama, mereka langsung saling jatuh cinta.

Pada hari-hari pertama, memang Kucir dan Kucung merasakan Kasih sayang dari ayah tirinya yang berkelebihan. Hari demi hari berlalu dan bulanpun tak mau menunggu. Yang semula belalaian kasih sayang, kini dirasakan oleh Kucir dan Kuncung hanya tamparan dan pukulan rotan. Oleh sebab itu Kucir dan Kuncung hendak kembali kepada ayahnya semula. Memang perjalanan nasib tak seorangpun yang tahu, begitu juga nasib Kucir dan Kuncung. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Badranaya yang sedang duduk sambil melamunkan nasibnya yang tak dikaruniai anak maupun teman. Ketika Badranaya tahu nasib kedua anak tersebut, dan Kucir dan Kuncungpun tak keberatan, maka Kucir dan Kucung diangkat oleh Badranaya sebagai anak-anaknya. Dan untuk menghilangkan kesan-kesan yang lalu, kedua anak itu diganti dengan nama Nala Gareng dan Petruk.

Tunggal cerita tetapi lain tempatnya, yaitu di Khayangan. Pada waktu itu di Khayangan , Batara Ismaya sedang meminta diri (pamitan) kepada istrinya, Dewi Kanastren, bahwa Betara Ismaya akan menunaikan tugas suci ke Arcapada untuk mengasuh dan membimbing para satria yang luhur budi pekertinya. Untuk menjalankan tugasnya itu telah disediakan oleh Sang Hyang Wenang tempat “manitis” atau manunggal ke dalam raga Badranaya.

Bertepatan dengan turunya Sang Hyang Ismaya, ketika itu Badranaya sedang dalam keadaan semadi. Maka ketika Sang Hyang Ismaya masuk ke dalam raganya, rasanya bagaikan dibawa alun dan diayun dan kemudian dihempaskan hingga tak sadarkan diri. Dan ketika Badranaya sadar, wajahnya berubah menjadi bersinar laksana bulan purnama (“Bdranaya duk nampeni panuksmanireng Jawata Ismaya, meh datan kiyat ragane, sanalika akantaka, dupi wus paripurna, sipating warna kadulu resik lajeng mawa praba”).

 

 

 

 

Nama-nama pada semar

Gaib, Asmara (cinta kasih), santa (suci), Nur Maya, Maya (kesaktian Brahman) dan Jnanabhadra (Cahaya Ilmu Pengetahuan), Cahaya Buana (cahaya bumi, langit dan seisinya) menunjukkan apa yang dimaksud sifat.

 

Drs. Warsita S dalam bukunya “di sekitar kebatinan” hal.17

Pencipta syair Hanacaraka itu adalah Jnanabhadra orang Jawa Asli yang menjadi sarjana dan pendeta Buddha Hinayana, dan sebagai pejabat “Emban Tuwanggana dan Mahapatih Mangkubumi” dari maharaja Hindu Agastya bernama Sanjaya (723-744) keturunan ras Asing Arya.

 

Dr. N.J Krom “Hindoe Javaansche Geschienis”, halaman 103, 107 dan Prof. Dr. Sucipto “Candi Dieng” halaman 6

Mengembangnya kebudayaan agama Hindu pada suatu waktu bersama-sama dengan agama Budha di Jawa Tengah itu tidak perlu dianggap sebagai suatu hal yang bertentangan. Menurut berita Tionghwa, Ho-ling pada pertengahan abad VII merupakan pusat kebudayaan agama Budha. Pada tahun 664-665 datanglah pendeta Hwui-ning di Ho-ling untuk 3 tahun lamanya. Pendeta yang beragama Budha ini bekerja sama dengan seorang guru besar Indonesia yang menurut bahasa Tionghwa disebut: Joh-na-po-tolo atau Jnanabhadra, menterjemahkan kitab-kitab agama , diantaranya bagian Nirwana dan pembakaran mayat Sang Budha.

Dari berita ini jelaslah bahwa Jawa Tengah telah merupakan pusat kebudayaan agama Budha Hinayana dan dipimpin okeh seorang sarajana Indonesia asli. Apabila Jawa Tengah pada abad ke VII telah menjadi pusat agama Budha Hinayana dan agama Hindhu, tidaklah mengherankan, apabila sejak abad ke VIII telah diketemukan bangunan-bangunan yang bertaraf tinggi dengan mengalami pertumbuhan yang lama.

 



Kyai R.Ng. Ranggawarsita  dalam kitab “Raja Watara” halaman 14 dengan sengkala “putra tiga nata barakan” 531 Jawa = 609 Masehi

Janggan Smarasanta atau Semar membangun pertapaan Sapta Arga/Candi Dieng atau Wretawu bersama resi Manumanasa dan Putut Supalawa






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer