Teater Kaplink

April 14, 2007

Puisi

Filed under: Puisi

SADARKU

Ini tak kusadari

Sampai saat ini

Keadaan yang kuanggap tak normal ini

Menikam wajahku begitu muram

Beberapa kisah mengatakan aku terbuai akan mimpiku

Tak kuhiraukan meski itu terus menjeratku

Kurasa tidak ada yang sempurna digenggamanku

Aku rapuh akan satu hal dalam diriku

Aku tak yakin dengan langkahku

Semutpun tertawa beringas melihatku

Bersekutu dengan yang lain menatapku

Kusadari

Aku harus bangkit

Dengan satu rasa

Genggamlah tanganmu sendiri

Tataplah jalanmu dengan lurus

Akupun harus pergi

Menginjak kakiku sendiri

Dengan tersenyum lepas

 

                     

Memar membalut

Kapital itu keji

Sujud yang teraniaya

Bullshit

Semua rendah di mataku

Ini bukan kebiadaban

Ini terpuji

                          

 

AKU TAKUT(ANJINGKU MATI DISISIKU)

Resah jadikan ketakutan ini

Masihkah ada kekuatan untuk memacu

Terus pacu…..

Berlarilah kedasar danau

Temukan jejak semangat yang telah padam

Maukah rasakan detak-detak itu

Disitu anjing-anjing lakukan dusta

Tak henti-hentinya mereka tersenyum padaku

Apa yang terjadi padaku

Tak satupun peduli padaku

Didekat itu kumainkan dawai dengan berlari ketakutan

Aku mulai sakit tak beraturan

Batu-batu itu……

Meruntuhkan segala impianku

Aku terus mencari kedasar danau itu

Telah kusaksikan

Betapa murahannya kehidupan sekarang

Begini makna sebuah harapan ?

Setiap benak yang terlintas

Telah dipancung oleh kedigdayaan

Hei…

Para penggila kedigdayaan !!

Kau pikir sudah menjadi raja didunia ini..

Ribuan kegigihan yang bertunas

Kau pangkas tanpa arah

Dari ujung rambut sampai jiwaku yang mati

                                                               
 

SAMAR

Ada yang merebah untuk kejiwaan yang terganggu

Tersayat mulai melayang

Srikandiku bertampang sembunyi mendekat

Putik-putik bunga padang sahara terhanyut menghias diri

Tak kusangka kukecup kembali nadiku sendiri

Hatiku sekarang ampuh untuk menapaki sekuntum pelangi kembali

Berada di peraduankah dengan menanyakan kembali

Tak percaya akan mematahkan juga

Menatap kepala suci yang terberangus keresahan bersama kecemasaan diri

Kuharap kelenjar ini semakin menjalar ke semua bagianku

________________________

Aku ingin bebas tapi terjebak

Orang ingin bebas tapi terjebak

Semua orang berteriak bebas telah terjebak

Dengan lantang ingin bebas tapi tak bisa karena terjebak

Keindahan dari diri apakah ini yang selalu terjebak

Memang kita selalu terjaga untuk menghindar tapi tetap saja terjebak

_____________________________________

Berapapun yang tersisa mengalir dalam hidup

Kutergerak tapi tak berontak

Aku bungkam untuk ketidakadilan

kukatakan “diam”Sekali lagi “diam”

Tak adakah lagi yang harus bicara untuk saat ini

Apa?

Kau bilang aku bisu !!!

Tidak, aku baru saja terperangkap jaring yang bejat itu

Anjing !!Aku terus berkobar dalam bungkamanku

Tidakkah ini penting !

Apapun itu pastilah berberat sebelah untuk saat ini

Rindang mengambang bersama lapuknya ketajaman fikiran

Hebat” memang manusia sungguh hebat

Selalu tak bersandar pada jangkauannya

Misteri apa yang menyelimuti semua ini

Seakan tak pernah berhadapan dengan kehancuran semesta alam

Kurasa awan mendung tak lagi menghitam

Kubertanya kembali adilkah untuk setiap nafas yang tersenggal

Bedebah !!

Tak ada lagi yang kuharapkan jadi diriku

Aku menyiksa setiap noda-noda lemah tak berdosa

Berjanji hanya bungkaman belakaOoh” satu persatu jiwa itu menghilang

Menghampar dilautan kebejatan para penggede-penggede tak berhati

Haru..haru sekali akan kepicikan tawa mereka

Ha..ha..ha..ha…

                                                        
Tak ku pelakkan perhatian dalam danau itu

Ku berharap fana yang telah hancur ituSelalu jadi penopang ragaku

Yang telah menyamarkan dustaku

                                                       

aku terbang tinggi saat terdekat olehmu

serasa sangat kelam saat tertampar begitu dalam

semuapun merintih menyaksikan keadaan ini

tak terkecuali nafsu membara yang membakar melati putih-usangpun ikut merintih

misteri apakah ini…………

                                         

Jantungku, jantungku, nafasku, ahhh, tersenggal

Otakku kian mengurai

Berurai menjadi rantai kosakata yang tertera

Lemas pilek dingin mulutku bergetar

Saksi mati cahaya yang mekar redup

Inikah semakin mati aku menjadi redup

Aku ingin bernafas dengan lega

Hirup aku bersama jarum-jarum melewati otak menancap menuju paru-paru

Bergetar seluruh tubuh melumpuh

Otakku lumpuh

Tanganku lumpuh

Mataku lumpuh

Kakiku lumpuh

Kelaminku lumpuh

Lumpuh, lumpuh, lumpuh….

Jadi aku bangkit

Ini aku bangkit

Terpental untuk tegak

Dengan kacang ini aku tak mau menjamur

Ada estafet panel gembok antara kodok dengan jerawat

Satu untuk pertama kali air mata menetes memaksa kedalam

Orang tua menginjak terlalu lekak

menghancurkan masa depan

Mandi bulan,2.00_10;feb;07

<tmpatPecanda>

(Aristya Kusuma Verdana)

MENGEJAR AIR

Orang sudah mencakar-cakar langit

Orang sudah memperkosa bumi

Waktu sudah dipenuhi angka-angka

Semua sudah bersudut tajam

Semua beubah menjadi api !

Api, Api

Pada beningnya nurani

Mata air kejadian bisa diurai

Tapi jarak telah kelamDimanakah air ?

Apakah ada pada kamu ?

(Imam Bucah_sanggar paramesthi “mbalekke banyu” : performance art)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer